Sekar Jagad Gallery & Creative Hub
Blambangan warriors armed with spears and kris daggers fighting VOC Dutch colonial forces on the coastal shores of Banyuwangi.

Perlawanan Rakyat Blambangan Melawan VOC: Kronologi Lengkap

Perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC bukanlah satu peristiwa tunggal yang meletus begitu saja pada Desember 1771. Ia adalah rangkaian panjang perjuangan yang berlangsung hampir tiga dekade, melibatkan beberapa pemimpin berbeda, dan berakar dari sebuah perjanjian sepihak yang dibuat bertahun-tahun sebelum perang besar itu pecah.

Artikel ini menyusun kronologi lengkap perlawanan rakyat Blambangan melawan VOC, tahun demi tahun, agar pembaca bisa memahami rangkaian penuh peristiwa ini secara runtut — bukan hanya puncaknya saja.

1743: Akar Konflik yang Dimulai dari Sebuah Perjanjian

Rangkaian panjang ini bermula jauh sebelum peperangan pecah, tepatnya pada tahun 1743, ketika Sunan Pakubuwono II dari Mataram menyerahkan Java's Oosthoek — wilayah yang membentang dari Pasuruan hingga Blambangan — kepada VOC secara sepihak melalui Perjanjian Ponorogo. Rakyat Blambangan sendiri tidak pernah dilibatkan dalam keputusan ini.

Namun, VOC tidak segera menduduki wilayah tersebut karena masih disibukkan oleh konflik internal di Mataram hingga tahun 1757. Barulah pada Februari 1767, VOC melancarkan invasi atau ekspedisi militer resmi ke Blambangan.

25 Maret 1767: Jatuhnya Ibu Kota Blambangan

Invasi VOC membuahkan hasil cepat. Pada 25 Maret 1767, ibu kota Kerajaan Blambangan berhasil dikuasai VOC. Namun, jatuhnya ibu kota tidak serta-merta mengakhiri perlawanan rakyat Blambangan — justru menjadi pemantik babak baru perjuangan yang lebih terorganisir.

Oktober 1767: Perlawanan Wong Agung Wilis Dimulai

Rakyat Blambangan yang menahan murka atas sikap sewenang-wenang VOC akhirnya bangkit melawan, dipelopori oleh Wong Agung Wilis, putra Raja Blambangan Danureja. Pada Oktober 1767, Wilis bersiap melancarkan serangan balasan. Di Ulu Pampang, ia membagi wilayah pertempuran menjadi dua bagian: sebagian dipimpin oleh Pangeran Jagapati (Mas Rempeg, yang masih keturunan Raja Blambangan Prabu Susuhunan Tawangalun), dan sebagian lagi dipimpin langsung oleh Wilis sendiri.

VOC sempat mencoba memecah belah perlawanan dengan membagi wilayah Blambangan menjadi dua dan menunjuk dua pemimpin boneka, Mas Anom dan Mas Weka. Namun siasat ini gagal — keduanya justru kemudian bergabung dengan barisan Wong Agung Wilis dan Pangeran Jagapati.

1768: Penangkapan Wong Agung Wilis dan Perlawanan Pangeran Puger

Pada tahun 1768, Wong Agung Wilis akhirnya tertangkap oleh VOC. Sumber sejarah sedikit berbeda mengenai lokasi pengasingannya — sebagian menyebut ia diasingkan ke Selong, dekat Pasuruan, sementara sumber lain menyebut ia dibawa ke Kepulauan Banda, Maluku.

Perjuangan tidak berhenti meski Wilis tertangkap. Masih di tahun yang sama, para pejuang Blambangan yang dipimpin Pangeran Puger, putra Wong Agung Wilis, melancarkan serangan terhadap benteng VOC di Banyualit.

Tekanan yang Semakin Berat Pasca-1768

Setelah penangkapan Wong Agung Wilis, VOC bersikap semakin sewenang-wenang terhadap rakyat Blambangan. Bahan pangan dirampas paksa, dan rakyat dipaksa menjalani tanam paksa serta kerja paksa membangun benteng dan perkebunan VOC. Kondisi yang semakin menekan ini membuat rakyat berbondong-bondong mengungsi ke kawasan Bayu, yang kini masuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

Selain faktor ekonomi, sejarawan juga mencatat adanya dimensi keagamaan dalam konflik ini: VOC menetapkan kebijakan bahwa siapa pun yang ingin diangkat menjadi bupati harus beragama Islam, sementara mayoritas masyarakat Blambangan saat itu masih memeluk agama Hindu.

18 Desember 1771: Puncak Perlawanan — Puputan Bayu I

Di Bayu, kepemimpinan perlawanan dilanjutkan oleh Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati. Rakyat yang terus berdatangan bergabung dengan pasukannya, hingga akhirnya perlawanan mencapai puncaknya pada 18 Desember 1771, ketika Pangeran Jagapati memimpin serangan besar-besaran terhadap pasukan VOC. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Puputan Bayu atau Perang Bayu I.

Pasukan VOC dalam pertempuran ini mendapat bantuan dari laskar-laskar pribumi asal Madura dan wilayah Jawa Timur lainnya, dipimpin oleh sejumlah perwira seperti Residen Blambangan Cornelis van Biesheuvel, Sersan Mayor Van Schaar, dan Kapten Reygers.

1772: Perang Bayu II dan Gugurnya Pangeran Jagapati

Perlawanan berlanjut ke babak kedua yang dikenal sebagai Perang Bayu II, kali ini juga melibatkan pemimpin perlawanan lain bernama Bapa Endha. VOC, yang saat itu digantikan kepemimpinannya oleh Residen Hendrik van Schopoff, menerapkan taktik yang kejam: membakar lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati, memicu kelaparan yang diikuti wabah penyakit di kalangan pejuang Blambangan.

Kekuatan pasukan Jagapati terus menyusut akibat kelaparan dan penyakit. Pada Oktober 1772, pasukan Jagapati akhirnya berhasil dipatahkan sepenuhnya oleh VOC. Pangeran Jagapati sendiri gugur dalam pertempuran ini. Tubuh dan kepala para prajurit Blambangan yang tewas bahkan digelantungkan di pepohonan sekitar benteng sebagai bentuk teror — detail yang membuat sejarawan Sri Margana menyebut Puputan Bayu sebagai salah satu peperangan tersadis dalam sejarah Indonesia.

1773: Benteng Terakhir Blambangan Jatuh Sepenuhnya

Setelah gugurnya Pangeran Jagapati, benteng terakhir pertahanan Blambangan resmi jatuh ke tangan VOC pada 1773, menandai berakhirnya perlawanan bersenjata rakyat Blambangan dan dimulainya era administrasi VOC penuh atas wilayah ini di bawah nama baru: Banyuwangi.

Skala Korban yang Mengejutkan

Dampak dari rangkaian perlawanan ini sangat besar. Menurut Benedict R. Anderson dalam catatannya, sekitar 60.000 dari total 65.000 penduduk Blambangan gugur, hilang, atau terpaksa menyingkir ke hutan untuk menyelamatkan diri dari VOC — sebuah angka korban yang proporsinya nyaris menghapus seluruh populasi wilayah ini.

Perspektif Akademis: Perlawanan sebagai Gerakan Melawan Hegemoni

Menariknya, perlawanan Wong Agung Wilis dan rakyat Blambangan ini juga telah menjadi objek kajian akademis. Penelitian yang dipublikasikan Jurnal Sangkala (Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi) menganalisis gerakan ini menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci, dan menyimpulkan bahwa perlawanan ini merupakan bentuk counter-hegemony — sebuah proses transformatif rakyat Blambangan untuk menghancurkan dominasi VOC yang dipaksakan lewat kerja wajib membangun benteng dan perkebunan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan perlawanan Blambangan terhadap VOC dimulai?

Akar konflik bermula dari Perjanjian Ponorogo tahun 1743. Namun, invasi militer VOC ke Blambangan baru dimulai pada Februari 1767, disusul perlawanan bersenjata yang dipimpin Wong Agung Wilis pada Oktober tahun yang sama.

Apa itu Perjanjian Ponorogo?

Perjanjian Ponorogo adalah kesepakatan tahun 1743 ketika Sunan Pakubuwono II menyerahkan wilayah Oosthoek Jawa, termasuk Blambangan, kepada VOC tanpa melibatkan masyarakat Blambangan.

Kapan ibu kota Kerajaan Blambangan jatuh ke tangan VOC?

Ibu kota Kerajaan Blambangan berhasil dikuasai VOC pada 25 Maret 1767.

Siapa Wong Agung Wilis?

Wong Agung Wilis adalah putra Raja Danureja yang memimpin perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC mulai Oktober 1767.

Apa yang terjadi pada Wong Agung Wilis setelah ditangkap?

Wong Agung Wilis ditangkap VOC pada tahun 1768. Beberapa sumber menyebut ia diasingkan ke Selong dekat Pasuruan, sementara sumber lain menyatakan ke Kepulauan Banda di Maluku.

Siapa Pangeran Puger?

Pangeran Puger adalah putra Wong Agung Wilis yang melanjutkan perjuangan dengan menyerang benteng VOC di Banyualit setelah ayahnya ditangkap.

Apa yang dimaksud dengan Puputan Bayu I?

Puputan Bayu I adalah puncak perlawanan yang terjadi pada 18 Desember 1771 ketika Pangeran Jagapati memimpin serangan besar terhadap pasukan VOC di wilayah Bayu.

Siapa yang memimpin Perang Bayu II?

Perang Bayu II dipimpin oleh Bapa Endha bersama para pejuang Blambangan hingga akhirnya berhasil dipatahkan VOC pada Oktober 1772.

Bagaimana VOC melemahkan pasukan Jagapati?

VOC membakar lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati sehingga terjadi kelaparan dan wabah penyakit yang melemahkan kekuatan perlawanan.

Kapan Pangeran Jagapati gugur?

Pangeran Jagapati gugur pada Oktober 1772 ketika pasukannya mengalami kekalahan terakhir melawan VOC.

Berapa banyak korban dalam rangkaian perlawanan ini?

Menurut Benedict R. Anderson, sekitar 60.000 dari total 65.000 penduduk Blambangan meninggal, menghilang, atau melarikan diri ke hutan akibat perang dan dampaknya.

Kapan Blambangan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan VOC?

Pada tahun 1773, benteng pertahanan terakhir Blambangan jatuh sehingga wilayah tersebut sepenuhnya berada di bawah administrasi VOC.

Perlawanan rakyat Blambangan melawan VOC bukan sekadar satu pertempuran heroik di bulan Desember 1771 — ia adalah perjuangan panjang hampir tiga dekade, dari Perjanjian Ponorogo 1743 hingga jatuhnya benteng terakhir pada 1773, melibatkan beberapa generasi pemimpin yang gugur satu demi satu namun tidak pernah benar-benar menyerah. Kronologi ini menjadi pengingat bahwa Hari Jadi Banyuwangi bukan sekadar tanggal seremonial, melainkan puncak dari perjuangan panjang yang menelan korban jiwa dalam jumlah yang nyaris tak terbayangkan. Ingin membaca narasi lengkap dari puncak perlawanan ini? Baca juga Puputan Bayu: Pertempuran yang Menjadi Awal Lahirnya Banyuwangi, atau telusuri sejarah kerajaan yang diperjuangkan rakyatnya ini di Kerajaan Blambangan: Kejayaan dan Keruntuhan di Ujung Timur Jawa.

Jelajahi Artisan Batik di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik