Tidak banyak wilayah di Indonesia yang perjalanannya sedramatis Banyuwangi. Dari kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa, melewati era kolonial dan stigma kelam sebagai "kota santet", hingga akhirnya menyandang predikat kota wisata kelas dunia yang diakui lembaga pariwisata internasional — Banyuwangi adalah bukti bahwa identitas sebuah wilayah bisa terus ditulis ulang tanpa harus melupakan akarnya.
Blambangan, Kerajaan Hindu Terakhir di Tanah Jawa
Jauh sebelum dikenal sebagai Banyuwangi, wilayah ini adalah pusat Kerajaan Blambangan, kerajaan yang berdiri sejak 1294. Awal berdirinya kerajaan ini terjadi ketika Raden Wijaya, yang saat itu menjadi raja di Kerajaan Singosari, meminta abdi dalemnya, Arya Wiraraja, untuk membantu menguasai Kerajaan Kediri. Sebagai balas jasa, separuh wilayah kekuasaan Singosari diberikan kepada Arya Wiraraja, meliputi daerah Kedaton Wetan yang membentang mulai dari Malang hingga Banyuwangi, yang kemudian disebut Kerajaan Blambangan.
Blambangan awalnya tercatat sebagai salah satu provinsi di masa Kerajaan Majapahit, dan nama "Balambangan" pertama kali ditemukan dalam Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada 1365 Masehi. Wilayah ini juga dikenal dengan sebutan Oosthoek yang berarti Semenanjung Timur. Setelah Majapahit mengalami keruntuhan pada abad ke-16, Blambangan tetap berdiri sebagai kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Jawa, bertahan hampir tiga abad di antara dua kekuatan besar: kesultanan-kesultanan Islam di sebelah barat, dan kerajaan-kerajaan Hindu Bali seperti Gelgel, Buleleng, dan Mengwi di sebelah timur. Kondisi ini membentuk karakter masyarakat Blambangan yang dikenal berdikari dan berani — sebuah warisan sikap yang masih bisa dirasakan pada masyarakat Osing hingga kini.
Legenda Sri Tanjung: Asal-usul Nama Banyuwangi
Nama Banyuwangi sendiri tidak lepas dari legenda Sri Tanjung, kisah yang diwariskan turun-temurun di kalangan masyarakat setempat. Alkisah, seorang raja bernama Prabu Sulahkromo terpikat oleh kecantikan Sri Tanjung, istri Patih Sidopekso, dan berusaha merayunya namun gagal. Sang raja lalu memfitnah Sri Tanjung kepada suaminya sendiri, membuat sang patih marah dan menyeretnya ke tepi sungai untuk dibunuh. Sebelum wafat, Sri Tanjung berpesan bahwa jika ia tidak bersalah, air sungai yang keruh akan berubah menjadi jernih dan berbau harum. Setelah kematiannya, keajaiban itu benar terjadi — air sungai berubah jernih dan mengeluarkan aroma harum, sehingga sang suami berteriak "banyu wangi, banyu wangi", yang kemudian menjadi asal-muasal nama wilayah ini: "banyu" berarti air, dan "wangi" berarti harum.
Puputan Bayu: Titik Balik Menuju Era Kolonial
Salah satu babak paling heroik dalam sejarah Blambangan adalah Puputan Bayu, perlawanan besar rakyat Blambangan terhadap VOC yang meletus pada 18 Desember 1771. Konflik ini dipicu ketegangan antara VOC, yang mengklaim penguasaan Blambangan berdasarkan penyerahan wilayah Jawa timur oleh Pakubuwono II, dengan pihak Inggris yang mulai menjalin hubungan dagang di kawasan tersebut. Meski VOC akhirnya berhasil menegaskan dominasinya, peristiwa Puputan Bayu tetap dikenang sebagai simbol perjuangan rakyat Blambangan mempertahankan kemerdekaan wilayahnya, dan tanggal peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi.
Setelah konflik tersebut, pada 24 Oktober 1773 VOC memutuskan menetapkan pusat administratif pemerintahan di Wana Tirtaganda, atau yang juga dikenal sebagai Tirtoarum atau Banyuwangi. Peristiwa ini menjadi titik penting transformasi dari kerajaan tradisional menuju struktur pemerintahan kolonial, dan pada akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia setelah kemerdekaan.
Dari Kota Pelabuhan ke Bayang-bayang "Kota Santet"
Pasca kemerdekaan, Banyuwangi tumbuh menjadi kota pelabuhan dagang yang terus berkembang hingga beberapa dekade. Namun nama baik daerah ini sempat tercoreng oleh tragedi kelam pada 1998, ketika terjadi pembantaian terhadap seratusan orang yang dituduh sebagai dukun santet. Peristiwa ini membuat Banyuwangi lekat dengan julukan "Kota Santet" selama bertahun-tahun setelahnya — sebuah stigma yang jauh dari gambaran kekayaan budaya dan sejarah panjang yang sebenarnya dimiliki daerah ini.
Kebangkitan Lewat Banyuwangi Festival
Titik balik besar terjadi pada 2010, ketika Abdullah Azwar Anas menjabat sebagai Bupati Banyuwangi dan memperkenalkan visi baru untuk menjadikan Banyuwangi sebagai kabupaten yang inovatif, partisipatif, dan inklusif, dengan sektor pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian daerah. Inovasi pertama yang menjadi katalis perubahan adalah peluncuran Banyuwangi Festival (B-Fest) pada 2012, yang awalnya terdiri dari 12 acara menampilkan seni, budaya, dan tradisi lokal seperti Gandrung Sewu, Festival Kuwung, dan Jazz Pantai. Festival ini kemudian tumbuh pesat, dengan sejumlah catatan menyebut B-Fest berkembang hingga lebih dari 99 acara tiap tahun pada 2024, sementara catatan lain menyebut jumlahnya mencapai 123 festival — angka yang terus bertambah seiring waktu.
Banyuwangi Festival bukan sekadar ajang pariwisata, melainkan instrumen untuk menggerakkan berbagai hal: tradisi, partisipasi masyarakat, sekaligus mendorong kolaborasi antar organisasi perangkat daerah. Dampaknya pun signifikan: kunjungan wisatawan meningkat drastis dari 670 ribu pada 2010 menjadi 5,2 juta pada 2018, sementara pendapatan per kapita masyarakat tumbuh dari sekitar 20 juta rupiah per orang per tahun pada 2010 menjadi kisaran 45 hingga 51,8 juta rupiah pada periode 2017-2019. Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan turun tajam dari 20,09 persen pada 2010 menjadi 7,80 persen pada 2018.
Prestasi ini pun mendapat pengakuan internasional. Pada 2016, Banyuwangi mewakili Indonesia berhasil meraih predikat juara dunia kategori Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan Bidang Pariwisata dalam ajang United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Excellence and Innovation in Tourism ke-12 di Madrid, Spanyol — sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa transformasi Banyuwangi bukan sekadar klaim lokal, melainkan capaian yang diakui dunia.
Pemberdayaan Manusia, Bukan Hanya Infrastruktur
Yang membuat transformasi Banyuwangi terasa berkelanjutan adalah fokusnya yang tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal. Pemerintah daerah secara konsisten mengadakan pelatihan bagi pelaku UMKM, pemandu wisata, dan pengelola homestay untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata. Desa-desa wisata seperti Desa Adat Osing Kemiren menjadi contoh sukses pemberdayaan masyarakat, di mana tradisi asli Osing — mulai dari upacara adat, kuliner, hingga kerajinan tangan — justru menjadi daya tarik utama yang terus menghasilkan nilai ekonomi bagi warga setempat.
Menjaga Akar di Tengah Perubahan
Meski transformasi ini membawa banyak kemajuan, sejumlah kajian arsitektur mencatat adanya tantangan tersendiri: perubahan visi kota menjadi kota wisata turut mendorong perubahan pada elemen-elemen perkotaan yang sebelumnya bersifat persisten, di mana beberapa elemen bersejarah di pusat kota diubah mengikuti tren masa kini, sehingga karakter aslinya berisiko berubah atau bahkan hilang. Tantangan ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan pariwisata yang berkelanjutan idealnya berjalan seiring dengan pelestarian warisan sejarah, bukan menggantikannya.
Di sinilah pentingnya menjaga hidup tradisi-tradisi asli seperti upacara adat Kebo-keboan, pernikahan adat Osing, bahasa Osing, hingga motif batik Banyuwangi yang telah diwariskan lintas generasi — bukan sekadar sebagai atraksi wisata, melainkan sebagai akar yang membuat Banyuwangi modern tetap punya jiwa dari Blambangan yang dulu.
Sebuah Wilayah yang Terus Menulis Ulang Dirinya
Perjalanan dari Blambangan ke Banyuwangi modern adalah kisah tentang bagaimana sebuah wilayah bisa jatuh, bangkit, dan menemukan kembali jati dirinya tanpa harus memutus hubungan dengan masa lalunya. Dari kerajaan Hindu yang berdikari, era kolonial yang penuh gejolak, stigma kelam yang sempat melekat, hingga pengakuan dunia atas inovasi pariwisatanya, Banyuwangi membuktikan bahwa transformasi sejati bukan tentang melupakan sejarah, melainkan tentang membawanya maju ke arah yang lebih baik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Kerajaan Blambangan?
Kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang berdiri sejak tahun 1294 dan bertahan hingga berabad-abad setelah runtuhnya Majapahit.
Dari mana asal nama Banyuwangi?
Nama Banyuwangi berasal dari legenda Sri Tanjung, ketika air sungai berubah menjadi jernih dan harum sebagai bukti kesuciannya sehingga dikenal sebagai "banyu wangi" atau air yang harum.
Apa yang dimaksud dengan Puputan Bayu?
Puputan Bayu adalah perlawanan besar rakyat Blambangan terhadap VOC pada 18 Desember 1771 yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Banyuwangi.
Mengapa Banyuwangi pernah dijuluki Kota Santet?
Julukan tersebut muncul setelah tragedi pembunuhan terhadap ratusan orang yang dituduh sebagai dukun santet pada tahun 1998, yang sempat memberikan citra negatif bagi Banyuwangi.
Apa itu Banyuwangi Festival?
Banyuwangi Festival atau B-Fest adalah rangkaian festival seni, budaya, dan pariwisata yang dimulai pada tahun 2012 untuk mempromosikan budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Siapa yang mempelopori transformasi pariwisata Banyuwangi?
Transformasi tersebut dipimpin oleh Abdullah Azwar Anas sejak menjabat sebagai Bupati Banyuwangi pada tahun 2010 melalui pendekatan pembangunan yang inovatif, partisipatif, dan berbasis pariwisata.
Penghargaan internasional apa yang pernah diraih Banyuwangi?
Pada tahun 2016, Banyuwangi memenangkan UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism pada kategori Public Policy and Tourism Governance.
Apa dampak perkembangan pariwisata terhadap perekonomian Banyuwangi?
Pariwisata meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, serta menurunkan angka kemiskinan di Banyuwangi.
Mengapa Desa Kemiren penting dalam perkembangan pariwisata Banyuwangi?
Desa Kemiren menjadi contoh desa wisata yang berhasil melestarikan budaya Osing melalui tradisi, kuliner, kerajinan, dan homestay yang dikelola langsung oleh masyarakat.
Apa tantangan Banyuwangi dalam mengembangkan sektor pariwisata?
Tantangan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dengan pelestarian bangunan bersejarah, budaya lokal, dan identitas kota.
Mengapa budaya Osing perlu terus dilestarikan?
Budaya Osing menjadi akar identitas Banyuwangi melalui bahasa, tradisi, upacara adat, dan batik khas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengapa Banyuwangi sering dijadikan contoh transformasi daerah berbasis pariwisata?
Karena Banyuwangi berhasil memadukan pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi kebijakan sehingga mampu meningkatkan ekonomi sekaligus memperoleh pengakuan internasional.

