Blambangan warriors fighting against VOC troops in the forests of Banyuwangi.

Puputan Bayu: Pertempuran yang Menjadi Awal Lahirnya Banyuwangi

Jika bertanya kepada masyarakat Banyuwangi tentang dari mana kisah daerah ini bermula, banyak yang akan mengarahkan Anda ke sebuah desa di Kecamatan Songgon bernama Bayu. Desa yang berada di lereng Gunung Raung ini menjadi saksi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Banyuwangi, yaitu Puputan Bayu atau Perang Bayu.

Peristiwa yang terjadi lebih dari dua setengah abad lalu ini bukan sekadar peperangan melawan penjajah. Di baliknya tersimpan kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan tekad masyarakat Blambangan mempertahankan tanah kelahirannya. Dari perjuangan inilah kemudian lahir identitas Banyuwangi yang kita kenal hingga sekarang.

Awal Mula Perlawanan

Jauh sebelum bernama Banyuwangi, wilayah paling timur Pulau Jawa dikenal sebagai Kerajaan Blambangan. Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu terakhir yang masih bertahan di Pulau Jawa ketika sebagian besar wilayah lain telah berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam maupun bangsa Eropa.

Memasuki pertengahan abad ke-18, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC mulai memperluas kekuasaannya ke Blambangan. Pada tahun 1767, VOC berhasil merebut ibu kota kerajaan dan perlahan mengambil alih kehidupan masyarakat.

Kebijakan yang diterapkan VOC semakin memberatkan rakyat. Kerja paksa diberlakukan, pajak terus meningkat, dan krisis pangan mulai terjadi di berbagai wilayah. Kondisi tersebut memicu kemarahan masyarakat Osing yang menjadi penduduk asli Blambangan.

Perlawanan awal dipimpin oleh Pangeran Wong Agung Wilis. Namun pada tahun 1768 beliau berhasil ditangkap dan diasingkan ke Pulau Banda, Maluku. Setelah kehilangan pemimpinnya, banyak rakyat Blambangan memilih mengungsi ke kawasan hutan dan pegunungan. Mereka berkumpul di Bayu, sebuah wilayah yang strategis untuk bertahan dari serangan musuh.

Di tempat inilah muncul seorang pemimpin baru bernama Mas Rempeg, yang kemudian lebih dikenal sebagai Pangeran Jagapati.

Perang yang Dilakukan Hingga Titik Darah Penghabisan

Kabar mengenai keberadaan Pangeran Jagapati di Bayu dengan cepat menyebar. Masyarakat dari berbagai wilayah Blambangan berdatangan untuk bergabung dalam perjuangan. Tempat persembunyian itu perlahan berubah menjadi benteng pertahanan yang kuat.

Sepanjang tahun 1771, bentrokan antara pasukan Blambangan dan VOC terus terjadi. Ketegangan semakin meningkat hingga akhirnya mencapai puncaknya pada 18 Desember 1771.

Pada hari itu, ribuan pejuang Blambangan yang dipimpin Pangeran Jagapati melancarkan serangan besar terhadap pasukan VOC. Persenjataan mereka sangat sederhana, sebagian besar hanya berupa tombak, golok, serta beberapa senjata api hasil rampasan perang.

Pertempuran ini dikenal sebagai sebuah puputan, yaitu perlawanan yang dilakukan tanpa mengenal kata menyerah. Bagi para pejuang, mempertahankan tanah air jauh lebih penting daripada menyelamatkan diri sendiri.

Serangan tersebut sempat membuat VOC kewalahan. Pasukan Blambangan berhasil memukul mundur lawan dan bahkan menjebak sejumlah tentara VOC ke dalam lubang-lubang perang yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Di tengah pertempuran sengit, Pangeran Jagapati mengalami luka serius dan gugur tidak lama kemudian. Meski kehilangan pemimpin, semangat perlawanan tidak langsung padam. Pertempuran kecil masih berlangsung hingga tahun 1772 sebelum akhirnya VOC, yang didukung pasukan tambahan dan persenjataan yang lebih modern, berhasil menguasai Bayu.

Dampak Besar bagi Blambangan

Perang Bayu meninggalkan luka yang sangat dalam bagi masyarakat Blambangan.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa sebelum perang, jumlah penduduk Blambangan mencapai sekitar 65.000 jiwa. Setelah perang berakhir, jumlah tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 5.000 hingga 8.000 orang. Banyak yang gugur dalam peperangan, mengungsi ke daerah lain, atau meninggal akibat kelaparan dan penyakit.

Di sisi lain, VOC juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Banyak tentaranya tewas atau terluka, sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan wilayah Blambangan sangat besar.

Meski harus membayar harga yang mahal, semangat perjuangan masyarakat Blambangan tidak pernah benar-benar hilang.

Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian para pejuang, tanggal 18 Desember 1771 kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Hingga kini, kawasan Rowo Bayu yang berada tidak jauh dari lokasi pertempuran masih sering dikunjungi masyarakat. Bagi sebagian orang, tempat tersebut bukan sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang untuk mengenang perjuangan para leluhur.

Mengapa Kisah Ini Masih Penting Hingga Sekarang?

Sejarah bukan hanya tersimpan di buku atau museum. Di Banyuwangi, kisah Puputan Bayu terus hidup melalui berbagai bentuk budaya.

Motif batik, pertunjukan tari, hingga kostum yang ditampilkan dalam Banyuwangi Ethno Carnival sering mengambil inspirasi dari sejarah perjuangan masyarakat Blambangan. Melalui karya seni tersebut, generasi muda diajak mengenal kembali nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap daerah asal mereka.

Pada Banyuwangi Ethno Carnival 2026, tema Perang Bayu dipilih sebagai inspirasi utama. Sejarah perjuangan ini dihadirkan kembali melalui kostum spektakuler, koreografi, dan pertunjukan teatrikal yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan dari berbagai negara.

Memahami Puputan Bayu bukan hanya tentang mengenang sebuah peperangan. Kisah ini membantu kita memahami mengapa masyarakat Banyuwangi memiliki rasa bangga yang begitu kuat terhadap budaya, tradisi, dan warisan leluhur yang terus mereka jaga hingga hari ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan Puputan Bayu?

Puputan adalah istilah yang menggambarkan perlawanan hingga titik darah penghabisan, di mana para pejuang memilih terus bertempur daripada menyerah. Bayu merupakan nama desa tempat pertempuran tersebut terjadi, sehingga Puputan Bayu dapat diartikan sebagai "perlawanan terakhir di Bayu".

Kapan Puputan Bayu terjadi?

Rangkaian peristiwa berlangsung sepanjang tahun 1771, dengan puncak pertempuran terjadi pada 18 Desember 1771. Bentrokan dalam skala lebih kecil masih berlanjut hingga tahun 1772 sebelum perlawanan akhirnya berhasil dipadamkan.

Siapa yang memimpin perlawanan dalam Puputan Bayu?

Pemimpin utama perlawanan adalah Mas Rempeg yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Jagapati. Ia melanjutkan perjuangan setelah Pangeran Wong Agung Wilis ditangkap dan diasingkan oleh VOC.

Mengapa masyarakat Blambangan berperang melawan VOC?

Setelah menguasai ibu kota Blambangan pada tahun 1767, VOC memberlakukan kerja paksa, pajak yang tinggi, dan kebijakan yang menyebabkan krisis pangan. Kondisi tersebut mendorong masyarakat melakukan perlawanan.

Di mana lokasi Pertempuran Puputan Bayu?

Pertempuran berlangsung di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, yang berada di lereng Gunung Raung. Kawasan Rowo Bayu yang berada di dekat lokasi tersebut kini dikenal sebagai salah satu situs bersejarah.

Berapa banyak orang yang terdampak akibat perang ini?

Perkiraan jumlah korban berbeda-beda, tetapi banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa populasi Blambangan menurun dari sekitar 65.000 jiwa menjadi sekitar 5.000 hingga 8.000 jiwa akibat perang, perpindahan penduduk, dan wabah penyakit.

Apakah VOC juga mengalami kerugian?

Ya. Banyak perwira dan ratusan tentara VOC tewas atau terluka selama perang berlangsung. Selain itu, VOC juga harus menanggung biaya yang sangat besar untuk menjalankan operasi militer di Blambangan.

Mengapa tanggal 18 Desember penting bagi Banyuwangi?

Tanggal tersebut menandai puncak Pertempuran Puputan Bayu dan kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi untuk mengenang perjuangan masyarakat Blambangan.

Apakah Rowo Bayu bisa dikunjungi wisatawan?

Ya. Rowo Bayu terbuka untuk umum dan sering dikunjungi wisatawan maupun masyarakat yang ingin mengenal sejarah Banyuwangi. Menggunakan jasa pemandu lokal akan membantu memahami latar belakang sejarah kawasan tersebut.

Bagaimana Puputan Bayu dikenang di Banyuwangi saat ini?

Puputan Bayu dikenang melalui peringatan Hari Jadi Banyuwangi, pertunjukan budaya, pementasan sejarah, serta berbagai acara kreatif seperti Banyuwangi Ethno Carnival.

Apa hubungan Puputan Bayu dengan BEC 2026?

Banyuwangi Ethno Carnival 2026 mengangkat tema Perang Bayu sebagai inspirasi utama. Kisah perjuangan tersebut ditampilkan melalui desain kostum, koreografi, dan pertunjukan teatrikal yang memperkenalkan sejarah Banyuwangi kepada masyarakat luas.

Apakah Puputan Bayu mirip dengan peristiwa puputan lainnya di Indonesia?

Ya. Istilah puputan juga dikenal dalam sejarah Bali, seperti Puputan Badung dan Puputan Margarana, yang sama-sama menggambarkan perlawanan hingga akhir melawan penjajah. Puputan Bayu memiliki semangat perjuangan yang serupa, meskipun terjadi di wilayah dan masa yang berbeda.

Pelajaran apa yang dapat dipetik generasi muda dari Puputan Bayu?

Selain sebagai peristiwa sejarah, Puputan Bayu mengajarkan nilai keberanian, ketangguhan, persatuan, serta pentingnya menjaga identitas budaya dan warisan leluhur.

Apakah ada buku atau referensi untuk mempelajari Puputan Bayu?

Ya. Beberapa sejarawan telah menulis mengenai peristiwa ini, termasuk karya yang mengacu pada Cornelis Lekkerkerker dan Hasan Ali. Museum Blambangan di Banyuwangi juga menjadi tempat yang tepat untuk mempelajari sejarah ini lebih dalam.

Apakah saya bisa mempelajari budaya Banyuwangi di Sekar Jagad?

Ya. Sekar Jagad Batik & Creative Hub di Banyuwangi menyediakan galeri batik khas Banyuwangi, kesempatan bertemu langsung dengan para perajin, serta workshop yang menghubungkan seni membatik dengan sejarah dan budaya daerah.


Jelajahi Batik Artisan di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik