Sekar Jagad Gallery & Creative Hub
ilustrasi Bendungan Karangdoro dan Jembatan Sasak Gantung Banyuwangi.

Jejak Kolonial di Banyuwangi: Bangunan dan Situs Bersejarah yang Masih Ada

Setelah Perang Puputan Bayu berakhir dan Blambangan sepenuhnya jatuh ke tangan VOC pada 1773, wilayah ini memasuki babak baru sebagai pusat administrasi kolonial. Meski babak tersebut menyisakan luka sejarah yang mendalam, ia juga meninggalkan jejak fisik yang masih bisa disaksikan hingga hari ini — mulai dari jembatan, bendungan, hingga bangunan perkebunan yang berdiri kokoh meski usianya sudah lebih dari satu abad.

Artikel ini mengulas beberapa bangunan dan situs peninggalan kolonial di Banyuwangi yang masih dapat dikunjungi, dikelompokkan berdasarkan fungsinya di masa lalu.

Warisan Infrastruktur: Jembatan, Dam, dan Terowongan

Salah satu jejak kolonial paling nyata di Banyuwangi adalah infrastruktur yang dibangun untuk mendukung distribusi hasil bumi dan pengairan lahan pertanian:

  • Sasak Gantung (Jembatan Gantung) Genteng — dibangun tahun 1926, menghubungkan Dusun Maron (Desa Genteng Kulon) dengan Dusun Jalen (Desa Setail). Kini menjadi tempat nongkrong favorit anak muda sambil menikmati pemandangan Sungai Setail, sungai terpanjang di Banyuwangi.
  • Bendungan Karangdoro — dibangun tahun 1921 di Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari, dengan bantuan ahli bangunan perairan Ir. Sutejo. Bendungan ini mengairi lahan sawah seluas ribuan hektare.
  • Dam Singir (Dam Blambangan) — terletak di Dusun Mangunrejo, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, diresmikan pada 1925 oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Hingga kini, dam ini masih berfungsi mengairi saluran irigasi di 8 desa di Kecamatan Srono dan Muncar.
  • Terowongan Mrawan — proyek terowongan kereta api yang disempurnakan pada 1910 oleh perusahaan kereta api Belanda, Staatsspoorwegen (SS).

Yang menarik dari infrastruktur ini adalah fungsinya yang masih aktif hingga sekarang — bukan sekadar monumen mati, melainkan bangunan yang terus bekerja mengairi sawah dan menopang kehidupan warga, seratus tahun setelah dibangun.

Warisan Perkebunan dan Industri

Banyuwangi juga menyimpan jejak kolonial dari sektor perkebunan, yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi Hindia Belanda:

  • PT Perkebunan Glenmore — di Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, wisatawan bisa menyaksikan bangunan pabrik bersejarah lengkap dengan lokomotif tua peninggalan kolonial yang dulu digunakan mengangkut hasil kakao dan memindahkan pekerja perkebunan. Kawasan ini terbuka untuk wisatawan lokal maupun mancanegara dengan mengisi buku tamu di posko keamanan.
  • Van De Boer ("De Bur") — bangunan di kawasan Kebun Kalitelepak, PTPN XII, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, yang dulu berfungsi sebagai kantor pengelola perkebunan tebu. Nama "De Bur" diambil dari nama pemilik lahan pada masa itu. Meski kini kondisinya memprihatinkan dan dikelilingi semak belukar, kemegahan arsitektur kolonialnya masih tampak jelas — bangunan ini bahkan dikenal warga sekitar menyimpan cerita mistis dan kerap didatangi pemburu harta karun.

Warisan Bangunan Kota dan Transportasi

Di pusat Kota Banyuwangi, beberapa bangunan kolonial masih berdiri sebagai saksi perkembangan kota:

  • Stasiun Karangasem — stasiun kereta api tua yang dibangun pada masa Belanda, dulu menjadi titik penting distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah timur Jawa menuju pelabuhan dan kota-kota besar. Meski kini sudah ada stasiun baru, Stasiun Karangasem tetap dipertahankan dan masih melayani perjalanan kereta rute lokal.
  • Bangunan eks Kantor Pos lama — menjadi saksi perkembangan komunikasi di masa kolonial. Meski fungsi kantor pos modern telah dipindahkan ke gedung baru, bangunan lama ini masih berdiri dan dipertimbangkan sebagai cagar budaya.
  • Bangunan eks markas tentara Belanda — sebuah gedung yang dulunya menjadi markas militer kolonial, kemudian diambil alih para pejuang Indonesia pada masa kemerdekaan — menjadikannya saksi dari dua babak sejarah sekaligus: penjajahan dan perjuangan meraih kemerdekaan.

Kawasan Kota Bernuansa Kolonial

Selain bangunan tunggal, Banyuwangi juga memiliki kawasan yang secara keseluruhan masih mempertahankan nuansa tata kota warisan Belanda, terutama di sekitar Jalan Veteran, Jalan RA Kartini, dan Kawasan Diponegoro. Di area ini, ornamen arsitektur khas zaman kolonial masih dipertahankan.

Menariknya, pemerintah daerah Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir mendorong pendekatan urban heritage — menyeimbangkan pelestarian sejarah dengan pembangunan modern. Sejumlah restoran, hotel, dan ruang publik kini mulai mengadopsi elemen bangunan tua sebagai bagian dari konsep desain interior dan branding visual, menghidupkan kembali nuansa klasik kawasan ini tanpa menghilangkan fungsinya di masa kini.

Situs yang Menjembatani Era Kerajaan dan Kolonial

Beberapa situs di Banyuwangi juga menjadi penanda transisi langsung dari era Kerajaan Blambangan ke era kolonial:

  • Situs Umpak Songo — terletak di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, menjadi penanda salah satu titik perpindahan ibu kota Kerajaan Blambangan saat masa peperangan melawan VOC di abad ke-18. Situs ini menyisakan sembilan batu berlubang yang diduga menjadi pondasi tiang bangunan pendopo.
  • Makam Buyut Cungking — terletak di Kelurahan Penganjuran, menjadi jejak penyebaran Islam yang berlangsung damai di Banyuwangi, sekaligus tempat ziarah warga hingga kini.

Mengapa Situs-situs Ini Layak Dikunjungi dan Dilestarikan

Bangunan-bangunan ini bukan sekadar struktur fisik yang bertahan dari waktu ke waktu. Di dalam setiap sudutnya, tersimpan nilai sejarah yang mencerminkan bagaimana Banyuwangi bertransformasi — dari kerajaan Hindu terakhir di Jawa, melewati babak kolonial yang penuh kompleksitas, hingga menjadi kabupaten modern seperti sekarang. Menjaga jejak-jejak ini tetap berdiri, sembari terus mengembangkan fungsinya untuk kebutuhan masa kini, adalah cara Banyuwangi merawat ingatan kolektif tanpa terjebak nostalgia buta terhadap masa penjajahan itu sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja peninggalan kolonial yang masih bisa ditemukan di Banyuwangi?

Beberapa di antaranya adalah Sasak Gantung Genteng, Bendungan Karangdoro, Bendungan Singir, Terowongan Mrawan, bangunan perkebunan Glenmore dan Van De Boer, Stasiun Karangasem, serta kawasan kota tua di sekitar Jalan Veteran.

Kapan Sasak Gantung Genteng dibangun?

Sasak Gantung Genteng dibangun pada tahun 1926 dan menghubungkan Dusun Maron di Desa Genteng Kulon dengan Dusun Jalen di Desa Setail.

Apa fungsi Bendungan Karangdoro saat ini?

Bendungan Karangdoro yang dibangun pada tahun 1921 masih digunakan untuk mengairi ribuan hektare sawah di wilayah Tegalsari.

Apa itu Bendungan Singir?

Bendungan Singir atau Bendungan Blambangan merupakan bendungan peninggalan kolonial yang diresmikan pada tahun 1925 dan hingga kini masih mengairi delapan desa di Kecamatan Srono dan Muncar.

Apa yang dapat dilihat wisatawan di PT Perkebunan Glenmore?

Pengunjung dapat melihat bangunan pabrik tua serta lokomotif peninggalan era kolonial yang dahulu digunakan untuk mengangkut hasil panen kakao dan pekerja perkebunan.

Apa itu bangunan Van De Boer?

Van De Boer atau "De Bur" adalah bekas kantor administrasi perkebunan tebu di Kaligondo yang masih mempertahankan arsitektur kolonial meskipun kondisinya mulai mengalami kerusakan.

Apa fungsi Stasiun Karangasem pada masa kolonial?

Stasiun Karangasem menjadi salah satu jalur penting untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan dari Banyuwangi menuju pelabuhan dan kota-kota besar.

Apakah bangunan bekas Kantor Pos lama Banyuwangi masih ada?

Ya. Bangunan tersebut masih berdiri hingga sekarang dan sedang diusulkan sebagai bangunan cagar budaya.

Kawasan mana di Banyuwangi yang masih memiliki nuansa kolonial?

Kawasan Jalan Veteran, Jalan RA Kartini, dan Jalan Diponegoro masih mempertahankan tata kota dan bangunan bergaya kolonial Belanda.

Apa yang dimaksud dengan konsep urban heritage di Banyuwangi?

Urban heritage adalah upaya melestarikan bangunan bersejarah sambil tetap memanfaatkannya untuk kebutuhan masa kini, seperti restoran, hotel, dan ruang publik.

Apa itu Situs Umpak Songo?

Situs Umpak Songo merupakan lokasi bekas perpindahan ibu kota Kerajaan Blambangan saat menghadapi VOC yang masih menyisakan sembilan batu umpak sebagai fondasi pendopo.

Apa pentingnya Makam Buyut Cungking?

Makam Buyut Cungking menjadi salah satu bukti penyebaran Islam secara damai di Banyuwangi dan hingga kini masih menjadi tujuan ziarah masyarakat.

Dari jembatan gantung yang masih dilalui warga hingga bangunan perkebunan yang perlahan ditelan semak belukar, jejak kolonial di Banyuwangi menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar romantisme arsitektur tua. Setiap situs adalah pengingat akan babak sejarah yang membentuk Banyuwangi seperti sekarang — babak yang layak dipahami secara utuh, bukan sekadar dikagumi dari sisi estetikanya saja. Ingin memahami babak sejarah sebelum era kolonial ini dimulai? Baca juga Perlawanan Rakyat Blambangan Melawan VOC: Kronologi Lengkap, atau Kerajaan Blambangan: Kejayaan dan Keruntuhan di Ujung Timur Jawa untuk memahami konteks penuhnya.

Jelajahi Artisan Batik di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik