Sekar Jagad Gallery & Creative Hub
Kebo-keboan Alasmalang

Upacara Adat Kebo-keboan: Makna di Balik Ritual Unik Banyuwangi

Setiap tahun pada bulan Suro, dua desa di Banyuwangi berubah suasana. Sejumlah pria berlumur cat hitam, bertanduk palsu, dan bergerak layaknya kerbau, diarak berkeliling desa di tengah sorak warga dan aroma dupa. Inilah Kebo-keboan — salah satu upacara adat paling ikonik milik masyarakat Osing, yang memadukan rasa syukur atas hasil panen, permohonan tolak bala, dan penghormatan kepada leluhur dalam satu rangkaian ritual yang sarat makna.

Artikel ini mengulas asal-usul, makna simbolis, tahapan pelaksanaan, hingga perbedaan tradisi Kebo-keboan di dua desa yang masih melestarikannya hingga kini.

Apa Itu Kebo-keboan?

Secara harfiah, Kebo-keboan berarti "kerbau tiruan" — dalam upacara ini, sejumlah warga dirias menyerupai kerbau, lengkap dengan tubuh hitam, tanduk, dan rambut palsu. Upacara Kebo-keboan merupakan wujud rasa syukur masyarakat Suku Osing terhadap hasil panen yang mereka terima, sekaligus berfungsi sebagai upacara bersih desa agar masyarakat terhindar dari bahaya. Tradisi ini hanya dilestarikan di dua desa, yaitu Desa Aliyan di Kecamatan Rogojampi dan Desa Alasmalang di Kecamatan Singojuruh.

Secara harfiah, istilah kebo-keboan berasal dari kerbau tiruan karena dalam upacara ini para peserta dirias seperti kerbau — tampil dengan tubuh berwarna hitam yang dilumuri oli, mengenakan rambut palsu, tanduk, serta sebagian membawa alat bajak sawah.

Legenda Buyut Karti dan Wabah yang Menghilang

Sejarah Kebo-keboan tak lepas dari kisah Buyut Karti, tokoh yang hidup pada abad ke-18 di Desa Alasmalang. Saat itu, desa dilanda wabah penyakit misterius yang sulit disembuhkan dan hama yang menyerang tanaman, hingga banyak warga kelaparan dan meninggal. Di tengah kondisi genting itu, sesepuh desa bernama Mbah Karti melakukan meditasi di sebuah bukit untuk memohon petunjuk ilahi.

Dari meditasi tersebut, ia menerima wangsit agar warga desa menggelar ritual selamatan sekaligus upacara Kebo-keboan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, dewi yang dipercaya sebagai pemberi kesuburan lahan dan kemakmuran bagi masyarakat petani. Para petani kemudian diminta menjelma menjadi sosok kerbau sebagai bagian dari ritual tersebut. Setelah ritual dijalankan, wabah yang melanda desa dipercaya menghilang, warga yang sakit sembuh, dan hama yang menyerang tanaman padi pun sirna — sejak itulah tradisi ini terus dilestarikan turun-temurun.

Desa Aliyan punya versi asal-usulnya sendiri. Menurut catatan sejarah, Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal Desa Aliyan, pada sekitar abad ke-18 juga mendapat wangsit untuk melakukan ritual tolak bala "keboan" agar masyarakat desa terhindar dari malapetaka serta mendapatkan hasil panen melimpah.

Makna di Balik Sosok Kerbau

Mengapa kerbau yang dipilih sebagai simbol utama? Di kemudian hari, pemilihan kerbau ini dimaknai bahwa hewan tersebut merupakan "teman" petani dalam membajak sawah — sosok yang setia menopang kehidupan agraris masyarakat Osing. Kebo-keboan pun berkembang menjadi lebih dari sekadar ritual: ia menjadi simbol kekuatan, penghormatan kepada roh leluhur, kepercayaan akan dunia spiritual, dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Selain simbol kerbau, sosok penting lain dalam prosesi ini adalah Dewi Sri, yang diperankan oleh seorang perempuan yang diarak dengan kereta hias berisi hasil bumi. Kebo-keboan kemudian dimaknai sebagai ritual bersih desa untuk menolak bala, mengusir roh jahat, serta menangkal wabah penyakit, sekaligus menjadi bentuk pemujaan dan ungkapan syukur kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan keberlimpahan hasil panen.

Rangkaian Prosesi: Dari Selamatan hingga Ider Bumi

Pelaksanaan Kebo-keboan umumnya diawali dengan tahap persiapan berupa pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan desa sebagai tanda bahwa tradisi akan segera digelar. Sehari sebelumnya, para perempuan berkumpul menyiapkan sesaji berupa tumpeng, kinang ayu, ingkung ayam, dan air kendi yang diletakkan di setiap sudut perempatan jalan, sementara para pemuda menyiapkan perlengkapan seperti pacul, beras, bibit padi, palawija, dan tebu.

Pada hari pelaksanaan, warga menggelar doa bersama sebelum acara dimulai. Para pemeran kebo-keboan tampil dengan tubuh hitam berlumur oli, tanduk, dan rambut palsu, sebagian membawa bajak, lalu diarak berkeliling desa diiringi satu perempuan yang berperan sebagai Dewi Sri. Prosesi ini dikenal sebagai Ider Bumi, mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual bersih desa.

Yang membuat prosesi ini terasa sakral sekaligus dramatis adalah fenomena kesurupan yang kerap dialami para pemeran kebo-keboan selama arak-arakan berlangsung. Perilaku mereka pun berubah menyerupai kerbau sungguhan — bergerak liar ke sana kemari, bahkan menyeruduk penonton yang ada di sekitarnya. Fenomena ini dianggap sebagai kehadiran roh leluhur yang merasuki para pemeran, menambah nuansa mistis pada keseluruhan ritual.

Rangkaian acara biasanya ditutup dengan prosesi menabur benih padi. Para "manusia kerbau" melakukan adegan membajak sawah, dilanjutkan dengan penaburan benih padi oleh tokoh yang memerankan Dewi Sri. Benih tersebut kemudian diperebutkan warga karena dipercaya membawa keberkahan dan hasil panen melimpah. Malam harinya, sebagai penutup dan hiburan bagi warga yang telah berpartisipasi, biasanya digelar pertunjukan wayang kulit yang mengisahkan tentang Dewi Sri.

Perbedaan Kebo-keboan di Alasmalang dan Aliyan

Meski berangkat dari akar cerita yang mirip, pelaksanaan Kebo-keboan di dua desa ini punya sejumlah perbedaan menarik. Di Desa Alasmalang, Kebo-keboan tidak hanya sebagai upacara adat saja namun juga sebagai daya tarik wisata, dan pelaksanaannya umumnya dibagi dalam tiga tahap utama: selamatan dengan 12 tumpeng yang melambangkan 12 bulan dalam setahun, arak-arakan keliling desa, dan diakhiri pemberian benih padi kepada petani. Pemeran kebo-keboan dan Dewi Sri di desa ini dipilih oleh ketua adat setempat, dan tidak semua pemeran mengalami kesurupan roh leluhur.

Sementara itu, di Desa Aliyan, upacara Kebo-keboan relatif lebih kental aturan adatnya dan dilakukan secara terstruktur, bahkan berlangsung dalam lima tahap yang lebih rinci. Pemilihan pemeran keboan dan Dewi Sri di desa ini dilakukan bukan oleh ketua adat, melainkan melalui tanda-tanda spiritual seperti kesurupan yang muncul sehari sebelum pelaksanaan — hampir semua pemain keboan di Desa Aliyan mengalami kesurupan roh leluhur. Desa ini juga memiliki tradisi khas berupa penyiapan kubangan lumpur tempat para "manusia kerbau" beraksi, di mana warga saling siram air selokan dan sebagian pemeran keboan "dibanting" ke dalam kubangan tersebut.

Kebo-keboan di Tengah Zaman Modern

Perjalanan tradisi ini tidak selalu mulus. Pelaksanaan ritual Kebo-keboan sempat terhenti selama hampir 25 tahun pascaperistiwa G30S/PKI pada 1965, ketika pemerintah melarang berbagai kegiatan adat yang dikhawatirkan mengandung muatan politik. Masyarakat Desa Alasmalang meyakini penghentian ritual ini justru memicu berbagai kejadian aneh, termasuk kesurupan massal dan gangguan sosial di desa — sebuah keyakinan yang akhirnya mendorong tradisi ini dihidupkan kembali.

Kini, Kebo-keboan bukan hanya menjadi ritual adat, tetapi juga bagian dari promosi budaya dalam berbagai paket wisata Banyuwangi, dan telah diakui sebagai warisan budaya tak benda khas Suku Osing. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang khusus untuk menyaksikan festival ini, merasakan suasana mistis yang penuh energi, sekaligus mengenal kehidupan masyarakat Osing lebih dekat. Meski demikian, masyarakat setempat tetap berkomitmen menjaga unsur spiritual dan adat agar ritual ini tidak kehilangan makna aslinya di tengah gempuran wisata massal.

Mengapa Kebo-keboan Layak Terus Dijaga

Kebo-keboan bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, serta hubungan erat antara manusia dan alam. Di balik riasan kerbau dan suasana kesurupan yang terlihat teatrikal, tersimpan filosofi mendalam tentang rasa syukur, kerja keras petani, dan keyakinan bahwa keseimbangan dengan alam harus terus dijaga agar kehidupan tetap berkah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu tradisi Kebo-keboan?

Kebo-keboan adalah upacara adat masyarakat Osing di Banyuwangi yang menampilkan warga berdandan menyerupai kerbau sebagai bentuk rasa syukur atas panen sekaligus ritual tolak bala.

Di mana tradisi Kebo-keboan masih dilaksanakan?

Tradisi ini masih dilestarikan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, dan Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Siapa Buyut Karti dalam sejarah Kebo-keboan?

Buyut Karti merupakan tokoh dari Desa Alasmalang yang dipercaya menerima wangsit untuk mengadakan ritual Kebo-keboan sebagai cara mengatasi wabah penyakit dan hama yang melanda desa.

Mengapa kerbau menjadi simbol utama dalam ritual ini?

Kerbau dipilih karena dianggap sebagai sahabat para petani dalam mengolah sawah, sehingga menjadi lambang kekuatan, kesuburan, dan kehidupan agraris masyarakat Osing.

Siapa Dewi Sri dalam prosesi Kebo-keboan?

Dewi Sri adalah simbol dewi padi dan kesuburan yang diperankan oleh seorang perempuan dalam arak-arakan sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil panen.

Apa yang dimaksud dengan prosesi Ider Bumi?

Ider Bumi adalah prosesi mengelilingi desa yang dilakukan oleh para pemeran kebo-keboan bersama tokoh Dewi Sri sebagai bagian dari ritual penyucian desa.

Apa perbedaan Kebo-keboan di Desa Aliyan dan Alasmalang?

Di Alasmalang, pelaku ritual dipilih oleh tetua adat dan tradisinya telah berkembang menjadi atraksi wisata budaya. Sementara di Aliyan, pelaku dipilih melalui tanda-tanda spiritual dan prosesi adatnya lebih ketat mengikuti aturan tradisional.

Mengapa banyak peserta Kebo-keboan mengalami kesurupan?

Masyarakat percaya kondisi tersebut merupakan bentuk kehadiran roh leluhur yang memasuki tubuh peserta selama prosesi berlangsung.

Kapan tradisi Kebo-keboan dilaksanakan?

Kebo-keboan diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Apakah tradisi Kebo-keboan pernah berhenti?

Ya. Tradisi ini sempat terhenti selama hampir 25 tahun setelah peristiwa G30S/PKI sebelum akhirnya kembali dilaksanakan oleh masyarakat.

Apakah Kebo-keboan kini menjadi atraksi wisata?

Ya. Khususnya di Desa Alasmalang, Kebo-keboan telah menjadi bagian dari wisata budaya Banyuwangi tanpa menghilangkan nilai-nilai sakral yang diwariskan leluhur.

Apa makna filosofi tradisi Kebo-keboan?

Tradisi ini mengajarkan rasa syukur atas panen, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Kebo-keboan adalah bukti bahwa di balik kesederhanaan riasan kerbau dan suasana kesurupan yang terlihat teatrikal, tersimpan kearifan panjang masyarakat Osing dalam memaknai hubungan mereka dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Baik di Aliyan maupun Alasmalang, ritual ini terus dijaga sebagai pengingat bahwa hasil panen yang melimpah selalu lahir dari kerja keras sekaligus rasa syukur yang tak pernah putus. Ingin menelusuri lebih jauh tradisi dan budaya Suku Osing lainnya? Baca juga Mengenal Suku Osing: Identitas Asli Masyarakat Banyuwangi, atau simak Peribahasa dan Ungkapan Osing: Kearifan Lokal dalam Untaian Kata.

Jelajahi Artisan Batik di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik