Setiap tahun, di sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, ribuan tumpeng berjejer di depan rumah warga, siap disantap bersama-sama oleh seluruh penduduk desa. Pemandangan ini adalah wujud dari Tumpeng Sewu — tradisi syukuran warisan leluhur Using yang telah dijaga turun-temurun, jauh sebelum akhirnya dikenal luas sebagai daya tarik wisata budaya Banyuwangi.
Artikel ini mengulas asal-usul tradisi ini, bagaimana prosesinya berlangsung, serta makna di balik setiap elemen yang menyertainya.
Asal-usul dari Nazar Petani
Menariknya, Tumpeng Sewu bukanlah tradisi yang lahir dalam bentuknya seperti sekarang. Sebelum Desa Kemiren menjadi permukiman seperti sekarang, wilayah ini dahulu adalah kebun dan sawah. Masyarakat pada masa itu memiliki nazar: jika kebun mereka menghasilkan buah yang melimpah, mereka akan menggelar selametan pecel pitik sebagai wujud syukur.
Tradisi ini pada mulanya dikenal dengan nama "Selametan Kampung", dan awalnya dilaksanakan secara berkelompok di hari yang berbeda-beda oleh masing-masing warga, bukan serentak seperti sekarang.
Titik Balik pada Tahun 2007
Perubahan besar terjadi pada tahun 2007, setelah Desa Kemiren resmi ditetapkan sebagai Desa Adat Wisata Osing. Seluruh lembaga di desa sepakat untuk menggabungkan pelaksanaan selametan menjadi satu hari bersama, digelar di bulan Dzulhijjah, mendekati waktu Idul Adha.
Dengan penggabungan ini, nama tradisi pun berubah dari "Selametan Kampung" menjadi Tumpeng Sewu, merujuk pada jumlah tumpeng yang disiapkan warga — setiap kepala keluarga (KK) wajib menyiapkan minimal satu tumpeng. Dengan sekitar 1.100 KK di Desa Kemiren, jumlah tumpeng yang terkumpul pun melebihi seribu, sehingga dinamai Tumpeng Sewu (Seribu Tumpeng).
Prosesi yang Dimulai dari Makam Leluhur
Rangkaian prosesi Tumpeng Sewu diawali dengan doa bersama di area pemakaman Buyut Cili, sosok leluhur yang dihormati masyarakat Desa Kemiren. Warga meyakini bahwa jika mereka memohon sesuatu sambil berjanji akan melaksanakan selametan di Buyut Cili, maka janji tersebut wajib dipenuhi saat permintaan mereka terkabul — kepercayaan yang menjadi salah satu akar spiritual tradisi ini.
Ciri khas lain dari prosesi ini adalah obor api biru (blue fire) yang diambil langsung dari Kawah Ijen sebagai api pertama yang dinyalakan dalam rangkaian acara. Setelah obor dinyalakan, seluruh warga secara serentak menggelar tumpeng mereka masing-masing di depan rumah untuk kemudian disantap bersama-sama, sebuah momen kebersamaan yang menjadi puncak dari keseluruhan tradisi.
Sebelum menyantap tumpeng, warga terlebih dahulu memanjatkan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa, memohon agar desa mereka dijauhkan dari segala bentuk bencana dan sumber penyakit — menjadikan Tumpeng Sewu juga berfungsi sebagai ritual tolak bala atau selametan bersih desa.
Makna di Balik Pecel Pitik dan Bentuk Kerucut
Isi tumpeng dalam tradisi ini bukan sembarang nasi kuning biasa. Menu utamanya adalah pecel pitik, hidangan khas Osing berupa ayam panggang yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu — hidangan yang menjadi identitas kuliner khas dalam tradisi ini.
Bentuk nasi yang mengerucut pada tumpeng juga memiliki makna filosofis tersendiri: melambangkan petunjuk untuk senantiasa mengabdi kepada Sang Pencipta, sekaligus pengingat akan kewajiban manusia untuk saling menyayangi sesama dan menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar.
Lebih dari Sekadar Ritual Makan Bersama
Berdasarkan kajian akademis yang dipublikasikan di jurnal Baradha (Universitas Negeri Surabaya), Tumpeng Sewu dikategorikan sebagai bentuk folklor setengah lisan yang hidup di Desa Kemiren, dengan tujuan utama sebagai wujud puji syukur masyarakat kepada Tuhan atas berkah yang telah diberikan kepada desa mereka.
Penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal pendidikan Universitas Negeri Surabaya turut menegaskan bahwa Tumpeng Sewu bukan sekadar ritual makan bersama biasa, melainkan sarana untuk memperkuat nilai keberkahan, syukuran, keselamatan, dan kebersamaan di antara warga — nilai-nilai yang kini turut dijaga oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat sebagai pengelola sekaligus penjaga keberlangsungan tradisi ini di tengah perkembangan wisata budaya Banyuwangi.
Tantangan Pelestarian di Era Modern
Meski terus dilestarikan, tradisi ini tidak lepas dari tantangan zaman. Sejumlah kajian mencatat bahwa globalisasi, komersialisasi budaya, serta menurunnya minat generasi muda menjadi tantangan nyata bagi keberlangsungan Tumpeng Sewu ke depannya. Namun sejauh ini, masyarakat Desa Kemiren tetap konsisten menjaga tradisi ini setiap tahunnya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Using.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Tumpeng Sewu?
Tumpeng Sewu adalah tradisi tahunan masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa agar desa senantiasa diberi keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.
Bagaimana asal-usul Tradisi Tumpeng Sewu?
Tradisi ini berawal dari nazar para petani yang berjanji mengadakan selametan dengan hidangan pecel pitik apabila hasil panen mereka melimpah. Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan bersama seluruh desa.
Apa nama tradisi ini sebelum disebut Tumpeng Sewu?
Sebelumnya tradisi ini dikenal sebagai Selametan Kampung, di mana setiap keluarga mengadakan selametan secara terpisah pada hari yang berbeda.
Mengapa disebut Tumpeng Sewu?
Disebut Tumpeng Sewu karena setiap kepala keluarga wajib menyiapkan minimal satu tumpeng. Dengan jumlah lebih dari seribu kepala keluarga, tumpeng yang terkumpul pun melebihi seribu.
Siapakah Buyut Cili?
Buyut Cili merupakan tokoh leluhur yang sangat dihormati oleh masyarakat Desa Kemiren. Prosesi Tumpeng Sewu diawali dengan doa bersama di makam beliau.
Apa keunikan obor dalam prosesi Tumpeng Sewu?
Obor pertama dalam prosesi ini dinyalakan menggunakan api Blue Fire dari Kawah Ijen sebagai simbol dimulainya rangkaian acara.
Apa itu pecel pitik?
Pecel pitik adalah hidangan khas Suku Osing berupa ayam kampung bakar yang dicampur dengan kelapa parut berbumbu. Hidangan ini menjadi menu utama dalam Tumpeng Sewu.
Apa makna bentuk kerucut pada tumpeng?
Bentuk kerucut melambangkan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus mengingatkan manusia untuk saling mengasihi dan menjaga kelestarian alam.
Kapan Tradisi Tumpeng Sewu dilaksanakan?
Tumpeng Sewu diselenggarakan setiap tahun pada bulan Dzulhijjah, berdekatan dengan Hari Raya Iduladha.
Apakah Tumpeng Sewu hanya sekadar makan bersama?
Tidak. Selain menjadi tradisi makan bersama, Tumpeng Sewu juga merupakan ritual bersih desa dan tolak bala yang memperkuat rasa syukur, persatuan, dan kebersamaan masyarakat.
Apa tantangan pelestarian Tumpeng Sewu saat ini?
Tradisi ini menghadapi tantangan berupa globalisasi, komersialisasi budaya, dan menurunnya minat generasi muda. Meski demikian, masyarakat Kemiren tetap berkomitmen melestarikannya setiap tahun.
Apakah wisatawan dapat menyaksikan Tumpeng Sewu?
Ya. Wisatawan dapat menghadiri perayaan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren dan menikmati salah satu tradisi budaya paling khas Banyuwangi dengan tetap menghormati adat dan tata cara setempat.
Tumpeng Sewu membuktikan bagaimana sebuah nazar sederhana dari para petani di masa lalu bisa berkembang menjadi tradisi besar yang menyatukan seribu keluarga dalam satu momen syukur bersama. Dari doa di makam Buyut Cili hingga obor blue fire Kawah Ijen, setiap elemen dalam tradisi ini menyimpan makna yang menjadikannya lebih dari sekadar ritual makan bersama — ia adalah cerminan identitas dan kebersamaan masyarakat Using yang terus dijaga hingga hari ini. Ingin memahami lebih jauh masyarakat yang menjaga tradisi ini? Baca juga Mengenal Suku Osing: Identitas Asli Masyarakat Banyuwangi, atau telusuri tradisi sakral lain dari desa yang sama di Ritual Seblang: Tarian Sakral Penolak Bala dari Osing.

