Banyuwangi tidak hanya kaya akan sejarah yang tercatat rapi dalam dokumen kolonial atau prasasti kerajaan. Di banyak sudutnya, sejarah berjalan berdampingan dengan mitos dan legenda yang diwariskan turun-temurun — cerita yang mungkin sulit dibuktikan secara ilmiah, namun tetap dijaga karena menjadi bagian tak terpisahkan dari cara masyarakat memahami tempat tinggal mereka.
Artikel ini mengulas dua situs paling terkenal dengan mitos dan legendanya: Watu Dodol dan Alas Purwo, lengkap dengan berbagai versi cerita yang beredar serta konteks ilmiah yang menyertainya.
Watu Dodol: Batu Raksasa yang Tak Bisa Dipindahkan
Di pesisir utara Banyuwangi, tepat di tepi jalan raya menuju Ketapang, berdiri sebongkah batu besar yang dikenal sebagai Watu Dodol. Batu ini bukan sekadar formasi alam biasa — ia menyimpan berbagai versi legenda yang berbeda-beda tergantung siapa yang menceritakannya.
Versi pertama mengaitkan batu ini dengan kisah Ki Buyut Jaksa (atau Ki Buyut Jaso), yang pada masa pemerintahan Bupati Mas Alit ditugaskan membelah bukit batu untuk membangun jalan penghubung Banyuwangi–Panarukan. Proyek ini berulang kali gagal dan menelan korban jiwa, hingga akhirnya dibuat semacam prasasti perjanjian sebagai penenang protes warga — jejak dari peristiwa ini diyakini melahirkan tradisi Puter Kayun yang masih dijalankan warga Boyolangu hingga sekarang.
Versi kedua justru bernuansa jenaka: dikisahkan bahwa Kyai Semar, tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, sedang memikul jenang (dodol) melintasi Selat Bali, namun dodolnya tumpah dan mengeras menjadi batu — dari sinilah nama "Watu Dodol" (batu dodol) dipercaya berasal.
Terlepas dari versi mana yang dipercaya, fakta menariknya adalah upaya nyata pemindahan batu ini pernah dilakukan pada masa kolonial Belanda — mulai dari memecahnya hingga menariknya menggunakan kapal — namun tidak ada satu pun yang berhasil. Bahkan, kapal yang digunakan untuk menariknya dikabarkan terbelah menjadi dua. Kegagalan berulang ini semakin memperkuat keyakinan warga bahwa batu tersebut dijaga oleh kekuatan gaib.
Sisi Ilmiah di Balik Watu Dodol
Menariknya, di balik seluruh mitos tersebut, Watu Dodol juga punya penjelasan geologis yang telah diteliti. Menurut data dari Geopark Ijen, bukit ini merupakan bagian dari perbukitan karst di lereng timur Kompleks Gunung Api Ijen, tersusun dari batu gamping terumbu yang mengandung fosil alga, koral, dan foraminifera — bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi lautan purba jutaan tahun lalu. Batu besar yang kini berdiri di tengah jalan adalah bagian dari formasi karst tersebut, yang secara alami memang sangat sulit dihancurkan.
Di sekitar Watu Dodol, terdapat pula bunker peninggalan zaman pendudukan Jepang (1942–1945) yang dahulu berfungsi sebagai benteng pertahanan. Warga setempat meyakini lorong-lorong di dalam bunker ini dapat menembus hingga kawasan Alas Purwo — sebuah kepercayaan yang menghubungkan dua situs mistis paling terkenal di Banyuwangi ini secara langsung.
Alas Purwo: Hutan "Awal Mula" yang Dipercaya sebagai Kerajaan Gaib

Nama Alas Purwo berarti "hutan awal mula" dalam bahasa Jawa, merujuk pada kepercayaan bahwa kawasan ini adalah tempat pertama munculnya daratan di Pulau Jawa. Sebagai kawasan yang kini berstatus Taman Nasional, Alas Purwo dipercaya masyarakat sekitar sebagai lokasi kerajaan gaib terbesar di tanah Jawa, dihuni oleh jin, genderuwo, hingga leluhur yang menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan alam tak kasat mata.
Menurut penelitian yang dikutip dari Repositori Universitas Jember, mitos kerajaan jin di Alas Purwo termasuk dalam kategori cerita hantu, bagian dari legenda alam gaib yang berkembang khususnya di kalangan masyarakat Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo — desa yang letaknya berbatasan langsung dengan kawasan hutan ini.
Beberapa titik dalam Alas Purwo dipercaya memiliki nilai mistis tersendiri:
- Situs Kawitan — diyakini sebagai lokasi kerajaan gaib yang megah, sering menjadi tempat ritual dan semedi bagi pelaku spiritual
- Gua Istana — dipercaya sebagai keraton dari kerajaan gaib tersebut, bahkan dikisahkan sebagai tempat Presiden Soekarno pernah bersemedi untuk bertemu dengan Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan dalam mitologi Jawa
- Gunung Tugu — terdapat bangunan tugu dengan tulisan Jawa Kuno, yang diduga peninggalan masyarakat Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke Alas Purwo setelah serangan Kerajaan Demak
Ritual dan Kepercayaan yang Masih Hidup
Setiap malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang ke Alas Purwo untuk melakukan tirakat dan semedi, membawa sesaji, dan berdiam diri di Pura Luhur Giri Salaka — pura suci yang terletak di tengah kawasan hutan ini. Malam tersebut diyakini sebagai waktu paling sakral untuk terhubung dengan alam gaib.
Salah satu pantangan yang paling sering diingatkan kepada pengunjung adalah larangan menoleh ke belakang jika mendengar suara asing memanggil nama mereka saat berada di dalam hutan — dipercaya sebagai upaya makhluk halus untuk menyesatkan pengunjung yang tidak menjaga sikap.
Mengapa Mitos-mitos Ini Tetap Dijaga
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah-kisah ini secara ilmiah, mitos dan legenda seperti Watu Dodol dan Alas Purwo memiliki fungsi sosial yang nyata: mengajarkan rasa hormat terhadap alam, menjaga kelestarian kawasan yang dianggap sakral, serta menjadi pengingat bahwa ada batas-batas yang sebaiknya tidak dilanggar manusia demi menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar. Sebagaimana dicatat pengamat Geopark Ijen, berbagai mitos dan cerita rakyat semacam ini bisa jadi merupakan amanat leluhur agar generasi sekarang terus menjaga kelestarian alam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Watu Dodol?
Watu Dodol adalah batu raksasa yang berada di tepi jalan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Batu ini terkenal karena berbagai legenda yang menyertainya serta kepercayaan bahwa batu tersebut tidak dapat dipindahkan.
Apa saja legenda yang berkaitan dengan Watu Dodol?
Dua kisah yang paling dikenal adalah legenda Ki Buyut Jaksa yang membelah bukit untuk membangun jalan serta cerita Kyai Semar yang menjatuhkan dodol hingga mengeras menjadi batu.
Benarkah Watu Dodol pernah dicoba dipindahkan?
Ya. Pada masa kolonial Belanda pernah dilakukan beberapa upaya untuk menghancurkan maupun menarik batu tersebut, namun semuanya gagal sehingga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kisah mistisnya.
Apa penjelasan ilmiah mengenai Watu Dodol?
Secara geologi, Watu Dodol merupakan bagian dari kawasan karst di lereng timur Kompleks Gunung Ijen yang tersusun atas batu kapur terumbu dan mengandung fosil organisme laut purba.
Apa arti nama Alas Purwo?
Alas Purwo berarti "hutan permulaan", merujuk pada kepercayaan bahwa kawasan ini merupakan tempat pertama munculnya daratan di Pulau Jawa.
Mengapa Alas Purwo dikenal sebagai kawasan mistis?
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Alas Purwo diyakini menjadi tempat bersemayam kerajaan gaib beserta para penjaga alam sehingga dianggap sebagai salah satu kawasan paling sakral di Pulau Jawa.
Apa itu Situs Kawitan?
Situs Kawitan dipercaya sebagai pusat kerajaan gaib di Alas Purwo dan sering dijadikan lokasi bertapa maupun bermeditasi oleh para pelaku spiritual.
Apa yang dipercaya berada di Goa Istana?
Menurut cerita masyarakat, Goa Istana merupakan istana kerajaan gaib di Alas Purwo. Beberapa kisah juga mengaitkannya dengan tempat semedi Presiden Soekarno.
Mengapa banyak orang datang ke Alas Purwo pada malam 1 Suro?
Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang paling sakral sehingga banyak peziarah datang untuk berdoa, bertirakat, dan bermeditasi di kawasan Alas Purwo.
Pantangan apa yang paling terkenal saat berada di Alas Purwo?
Salah satu pantangan yang paling dikenal adalah tidak menoleh ke belakang apabila mendengar suara asing memanggil nama ketika berada di dalam hutan.
Apakah ada kaitan antara Watu Dodol dan Alas Purwo?
Menurut cerita masyarakat, bunker peninggalan Jepang di sekitar Watu Dodol memiliki lorong yang dipercaya terhubung hingga ke kawasan Alas Purwo, meskipun hal tersebut belum pernah dibuktikan secara ilmiah.
Mengapa mitos-mitos ini masih dilestarikan hingga sekarang?
Selain menjadi bagian dari warisan budaya, kisah-kisah tersebut mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam, menjaga kawasan yang dianggap sakral, serta melestarikan identitas budaya Banyuwangi.
Watu Dodol dan Alas Purwo membuktikan bahwa Banyuwangi adalah daerah yang kaya bukan hanya karena sejarah yang tercatat, tetapi juga karena mitos dan legenda yang terus hidup berdampingan dengan penjelasan ilmiah di baliknya. Terlepas dari percaya atau tidak, cerita-cerita ini tetap menjadi bagian dari identitas kultural yang menjaga rasa hormat masyarakat terhadap alam sekitar. Ingin menelusuri legenda lain yang juga erat dengan sejarah Banyuwangi? Baca juga Legenda Sritanjung dan Sidopekso: Asal Kata 'Banyuwangi'

