Para penampil BEC 2026 mengenakan kostum rumit yang terinspirasi dari Perang Bayu saat parade Karnaval Etno Banyuwangi.

BEC 2026 Menghidupkan Kembali Perang Bayu di Jalanan Banyuwangi

Selama lebih dari satu dekade, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) dikenal sebagai parade kostum etnik spektakuler yang memenuhi jalan utama kota. Namun, pada penyelenggaraan tahun 2026, BEC hadir dengan konsep yang berbeda. Mengusung tema Perang Bayu, karnaval tahun ini tidak hanya menampilkan kostum megah, tetapi juga menghadirkan pertunjukan teatrikal yang dipadukan dengan tari tradisional untuk mengisahkan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Banyuwangi.

Mengapa Memilih Tema Perang Bayu?

Perang Bayu merupakan nama lain dari Puputan Bayu, pertempuran bersejarah yang terjadi pada tahun 1771 ketika pasukan Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Jagapati melakukan perlawanan terakhir terhadap VOC di wilayah yang kini menjadi Kecamatan Songgon.

Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, tema ini dipilih agar masyarakat dapat mengenal kembali sejarah daerah melalui pendekatan yang lebih menarik. Alih-alih hanya membaca sejarah dari buku, pengunjung dapat menyaksikannya secara langsung melalui pertunjukan seni.

Berbeda dengan edisi sebelumnya yang lebih menonjolkan parade busana etnik, BEC 2026 menghadirkan konsep yang lebih teatrikal. Para peserta tidak hanya berjalan mengenakan kostum, tetapi juga memerankan tokoh-tokoh dalam kisah Perang Bayu, mulai dari pejuang Blambangan hingga pasukan VOC.

Lima Subtema yang Menjadi Alur Cerita

BEC 2026 disusun seperti sebuah pertunjukan panggung yang bergerak sepanjang rute parade. Seluruh penampilan dibagi menjadi lima subtema yang saling terhubung sehingga membentuk satu alur cerita utuh.

Kelima subtema tersebut meliputi:

  • Hasil Bumi, menggambarkan kekayaan alam Blambangan.
  • VOC dan Sekutunya, memperlihatkan kekuatan kolonial yang datang ke wilayah tersebut.
  • Lokasi Peperangan, menampilkan berbagai tempat penting dalam Perang Bayu.
  • Senjata dan Genderang Perang, menggambarkan perlengkapan yang digunakan selama pertempuran.
  • Pejuang Blambangan, sebagai penutup yang mengangkat keberanian para tokoh yang mempertahankan tanah kelahirannya.

Masing-masing bagian diperkirakan berlangsung sekitar delapan hingga sembilan menit. Lima sanggar tari dari berbagai wilayah Banyuwangi dipercaya menyusun koreografi untuk setiap segmen sehingga keseluruhan pertunjukan terasa seperti sebuah drama kolosal yang bergerak di sepanjang jalan.

Musik pengiring tetap memadukan unsur modern dan tradisional, namun tahun ini instrumen tradisional akan lebih mendominasi dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Proses Kreatif di Balik Kostum BEC 2026

Persiapan menuju BEC selalu melibatkan banyak pelaku seni lokal, termasuk pada tahun ini.

Sekitar 100 peserta dibagi ke dalam lima kelompok sesuai subtema. Para perancang busana telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat kostum yang terinspirasi dari kisah Perang Bayu, mulai dari mahkota bertema peperangan hingga baju zirah dengan detail yang rumit.

Beberapa desainer bahkan menangani lebih dari sepuluh kostum sekaligus. Sementara itu, pengrajin ukir kayu turut dilibatkan untuk membuat ornamen sayap, mahkota, dan berbagai dekorasi yang memperkuat karakter setiap kostum.

Audisi peserta sendiri telah dilaksanakan pada April 2026 di dua lokasi berbeda agar dapat menjangkau peserta dari berbagai wilayah Banyuwangi. Total hadiah yang diperebutkan mencapai sekitar Rp60 juta.

Jadwal dan Lokasi BEC 2026

BEC 2026 akan berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 Juli 2026.

Puncak acara berupa parade dan pertunjukan utama digelar pada 18 Juli 2026, ketika kisah Perang Bayu dipentaskan di sepanjang jalan protokol Kota Banyuwangi.

Sementara itu, malam penghargaan dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 di Gesibu Blambangan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa ruas jalan utama akan ditutup sementara selama acara berlangsung sehingga pusat kota berubah menjadi panggung terbuka yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan acara ini, datang lebih awal sangat disarankan karena konsep baru yang lebih teatrikal telah menarik perhatian banyak orang, baik dari Banyuwangi maupun daerah lain.

Sejarah yang Hidup Lewat Seni

Hal yang membuat BEC 2026 terasa istimewa adalah keterkaitannya yang sangat erat dengan sejarah Banyuwangi. Kisah Puputan Bayu yang selama ini dikenal melalui buku dan cerita sejarah kini dihidupkan kembali melalui kostum, tari, musik, dan pertunjukan teater.

BEC tahun ini bukan sekadar festival budaya, tetapi juga menjadi cara baru untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda sekaligus menjaga warisan budaya Banyuwangi tetap hidup.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa tema Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026?

BEC 2026 mengusung tema Perang Bayu: The Great War of Blambangan, yang terinspirasi dari peristiwa bersejarah Puputan Bayu pada tahun 1771.

Kapan BEC 2026 diselenggarakan?

Acara akan berlangsung pada 17 hingga 19 Juli 2026, dengan parade dan pertunjukan utama digelar pada 18 Juli 2026.

Apa yang membedakan BEC 2026 dengan penyelenggaraan sebelumnya?

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, BEC 2026 menghadirkan konsep pertunjukan teatrikal di mana para peserta memerankan kisah Perang Bayu sambil menampilkan kostum yang megah dan penuh detail.

Apa saja lima subtema dalam BEC 2026?

BEC 2026 dibagi menjadi lima subtema, yaitu Hasil Bumi, VOC dan sekutunya, lokasi peperangan, senjata dan genderang perang, serta para pejuang Blambangan.

Di mana parade BEC 2026 berlangsung?

Parade berlangsung di sepanjang jalan protokol Kota Banyuwangi, sedangkan malam penganugerahan digelar di Gesibu Blambangan.

Berapa banyak sanggar tari yang terlibat dalam BEC 2026?

Sebanyak lima sanggar tari dari berbagai wilayah Banyuwangi bertanggung jawab menyusun koreografi untuk masing-masing segmen cerita.

Berapa jumlah peserta yang tampil di BEC 2026?

Sekitar 100 peserta akan berpartisipasi dan dibagi ke dalam lima kelompok sesuai dengan subtema yang diangkat.

Kapan audisi peserta BEC 2026 dilaksanakan?

Audisi diselenggarakan pada April 2026 di dua lokasi berbeda agar dapat menjangkau peserta dari berbagai wilayah Banyuwangi.

Apakah ada hadiah bagi peserta BEC 2026?

Ya. Panitia menyediakan total hadiah sekitar Rp60 juta bagi para peserta dengan penampilan terbaik.

Berapa biaya pembuatan kostum BEC?

Tergantung pada desain dan tingkat kerumitannya, biaya pembuatan satu kostum umumnya berkisar antara Rp10 juta hingga Rp20 juta.

Mengapa Perang Bayu dipilih sebagai tema BEC 2026?

Tema ini dipilih untuk memperkenalkan sejarah Banyuwangi dengan cara yang lebih menarik melalui perpaduan pertunjukan budaya dan penceritaan sejarah.

Apakah musik tradisional akan digunakan dalam BEC 2026?

Ya. Instrumen tradisional akan menjadi bagian utama dalam pertunjukan tahun ini, dipadukan dengan aransemen musik modern.

Apakah wisatawan dapat menghadiri BEC 2026?

Tentu. Acara ini terbuka untuk umum dan pengunjung dapat menikmati parade, pertunjukan teatrikal, serta berbagai atraksi budaya di sepanjang rute acara.

Apakah Perang Bayu sama dengan Puputan Bayu?

Ya. Perang Bayu dan Puputan Bayu merujuk pada peristiwa sejarah yang sama, yaitu peperangan antara Kerajaan Blambangan dan VOC pada tahun 1771.

Di mana saya bisa mempelajari lebih lanjut tentang sejarah di balik tema BEC 2026?

Anda dapat membaca artikel khusus mengenai Puputan Bayu yang membahas latar belakang, tokoh-tokoh penting, jalannya peperangan, serta makna sejarahnya bagi Banyuwangi.

Jelajahi Batik Artisan di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik